Prof. Robertus Robert: Saatnya Rakyat dan Pemerintah Harus Bersatu untuk mencgah Krisis
Akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof. Robertus Robert
Derasnews, Jakarta- Menghadapi ancaman krisis ekonomi akibat dampak perkembangan geopolitik internasional saat ini mengharuskan adanya kekompakan antara masyarakat dan Pemerintah dalam mengantisipasinya sehingga jurang krisis yang dikhawatirkan terjadi didalam negeri tidak begitu dalam dan lama.
Seperti yang disampaikan oleh akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof. Robertus Robert di Jakarta, Jum’at (22/05/2026) bahwa Indonesia berada di dalam tatanan global yang sedang tunggang langgang, penuh ketidakpastian dan risiko. Konflik dan krisis di pelbagai kawasan sekitar membuat tekanan baru baik ekonomi, politik maupun keamanan di Indonesia. Hal ini menurutnya tentu menimbulkan ketidakpastian dan kekhawatiran. Untuk itu diperlukan tekad bersama menjaga Indonesia agar tidak masuk kedalam jurang krisis yang begitu dalam. Sehingga tidak memerlukan waktu yang terlalu lama untuk memperbaikinya.
”Apakah Indonesia akan mengalami krisis seperti dulu? Kita tentu berharap tidak terjadi. Kita harus bersama-sama menjaga Indonesia agar tidak masuk ke dalam jurang krisis! Mengapa? Dalam situasi dunia yang tak pasti, Indonesia tidak akan mampu menanggung akibat-akibat krisis ekonomi dan politik sebagaimana dulu. Kalau sampai terjadi krisis, perlu waktu lebih lama untuk recovery”, ujar Robert.
Untuk itu, dalam situasi seperti ini menurutnya diperlukan trust yang kuat antara sesama warga dan antara warga dengan pemerintah.
Robert optimis trust muncul apabila pemerintah terbuka dan mendorong partisipasi yang genuine. Sebaliknya trust akan hilang apabila kekhawatiran dan pertanyaan-pertanyaan rakyat dijawab dengan represi dan kekerasan.
”Warga dan pemerintah sama-sama punya kewajiban menjadikan demokrasi kita sebagai bekal untuk membangun kepercayaan agar kita mampu melewati jaman yang tak pasti ini”, tutup Robert.
Sebagaimana diketahui, berdasar sejumlah analisa risiko terjadinya krisis absolut (seperti krisis moneter 1998) relatif minim karena fundamental ekonomi, cadangan devisa, dan sistem perbankan nasional saat ini jauh lebih kuat. Namun, jika perang memicu krisis energi global yang sangat parah, Indonesia menghadapi risiko stagflasi, kondisi di mana pertumbuhan ekonomi melambat secara tajam namun inflasi harga barang melonjak tinggi. (*)