Forum Buruh Indonesia Bicara: Kerja Layak, Upah Layak, dan Hidup Layak Gagal Diwujudkan
[caption id="attachment_7203" align="alignnone" width="300"]
Ilustrasi[/caption]
Derasnews, Jakarta- Sejumlah aktivis buruh menghadiri acara bertajuk Forum Buruh Indonesia Bicara yang diselenggarakan di Lt 3 Gedung DPP FSPMI, Kamis (21/2/2019). Beberapa aktivis tersebut adalah Didi Suprijadi (Ketua PB PGRI/Ketua Majelis Nasional KSPI), Sabda Pranawa Djati (Sekretaris Jenderal ASPEK Indonesia/Sekretaris Jenderal Jamkeswatch), Mundiah (Vice President FSPMI), Samsuri (Wakil Sekretaris PP SPEE FSPMI), Kardinal (Ketua PC SPAI FSPMI). Selain itu, juga hadir aktivis buruh Bekasi, Muhammad Nurfahroji.
Forum ini menjadi ruang bagi kaum buruh untuk menyampaikan gagasan dan pemikirannya. Termasuk menyikapi berbagai isu terkini di dunia perburuhan.
"Kali ini tema yang diangkat adalah kerja layak upah layak dan hidup layak gagal diwujudkan," kata Muhammad Herveen yang bertindak melaku moderator.
Didi Suprijadi menjelaskan, masih ada guru yang bekerja belasan tahun tetapi hanya digaji 300 ribu. Ini ironis. Sebab terjadi di negara yang memiliki cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun di saat yang bersamaan, nasib guru masih terabaikan.
Bahkan, lanjut Didi, janji untuk mengangkat honorer menjadi ASN juga belum bisa diwujudkan.
Samsuri menyoroti kebijakan pengupahan. Menurutnya, PP 78/2015 adalah biang keladi upah murah. Sejak Peraturan Pemerintah tentang Pengupahan itu diberlakukan, kenaikan upah dibatasi. Bahkan tidak ada lagi perundingan untuk menentukan upah minimum di daerah, karena besar kenaikan sudah diputuskan pemerintah pusat.
"Karena itu, buruh menuntut agar PP 78/2015 dicabut. Kami akan terus berjuang dan melawam setiap kebijakan yang menghambat kesejahteraan kaum buruh," tegasnya.
"Kalau upah minimum untuk pekerja lajang saja susah didapat, bagaimana dengan upah buruh yang berkeluarga?" Gugat Samsuri. (lebih…)